INDUSTRI FARMASI (TUGAS 2)

  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang                                         

           Kesehatan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yangmemungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

 Kesehatan merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraanmanusia sehingga menjadi prioritas dalam pembangunan nasional suatu bangsa.Salah satu komponen kesehatan yang sangat penting adalah tersedianya obatsebagai bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat. Hal itu disebabkankarena obat digunakan untuk menyelamatkan jiwa, memulihkan ataumemelihara kesehatan. Industri farmasi sebagai industri penghasil obat,memiliki peran strategis dalam usaha pelayanan kesehatan kepada masyarakat.Seiring dengan meningkatnya pendidikan dan tingkat kesadaran masyarakatakan arti pentingnya kesehatan, maka industri farmasi dituntut untuk menyediakan obat dalam jenis dan jumlah yang memadai serta kualitas yangbaik. 

Industri farmasi merupakan salah satu tempat Apoteker melakukanpekerjaan kefarmasian terutama menyangkut pembuatan, pengendalian mutusediaan farmasi, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian dan pengembanganobat. Untuk menghasilkan produk obat yang bermutu, aman dan berkhasiatdiperlukan suatu tahap kegiatan yang sesuai CPOB yang meliputi perencanaan, pengendalian dan pemantauan bahan awal, proses pembuatan sertapengawasan terhadap mutu, peralatan yang digunakan, bangunan, hygiene,sanitasi serta personalia yang terlibat di setiap proses produksi.

CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik) adalah pedoman yangdikeluarkan oleh Departemen Kesehatan sesuai dengan Keputusan MenteriKesehatan RI SK Menkes RI No.43/Menkes/SK/II/1998 sebagai suatupersyaratan dan ketentuan bagi setiap industri farmasi untuk dilaksanakan. Halini bertujuan agar masyarakat dapat terjamin keamanannya dalammengkonsumsi obat-obatan yang dihasilkan dan mendapatkan mutu obat yangbaik.

Berkaitan dengan pelaksanaan CPOB, sumber daya manusia (personil)merupakan bagian penting dalam pembentukkan, penerapan sistem pemastianmutu dan pembuatan obat yang baik, oleh sebab itu perlu mempersiapkan danmembekali personil agar mempunyai keterampilan serta wawasan yang luasmengenai industri farmasi dan penerapannya dalam segala aspek CPOB.Berdasarkan hal tersebut, maka Fakultas Farmasi Universitas Pancasila bekerjasama dengan Lembaga Farmasi TNI Angkatan Laut Drs. Mochamad KamalJakarta yang telah mendapatkan sertifikat CPOB untuk menyelenggarakanprogram Praktek Kerja Profesi Apoteker di bidang industri. Pelaksanaannyadimulai dari tanggal 12 – 30 September 2011, yang terdiri dari serangkaiankegiatan yang meliputi pengarahan, peninjauan lapangan, pelaksanaan tugaskhusus serta presentasi tugas.

1.2.Tujuan Praktek Kerja Profesi Apoteker

1. Mengetahui peran dan fungsi apoteker dalam industri farmasi, khususnya diLembaga Farmasi TNI Angkatan Laut Drs. Mochamad Kamal Jakarta.

2. Mengetahui dan melihat secara langsung bagaimana pengelolaan industrifarmasi, segala bentuk kegiatan LAFIAL yang dilakukan apakah sudahsesuai dengan ketentuan dalam CPOB.

3. Melihat dan membandingkan penerapan CPOB di Lembaga Farmasi TNIAngkatan Laut Drs. Mochamad Kamal Jakarta dengan teori yang telahditerima.

1.3 Manfaat Praktek Kerja Profesi Apoteker

Melalui materi dan praktek yang diperoleh selama Pelatihan Praktek Kerja ProfesiApoteker ini diharapkan :

  1. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan pemahaman serta penerapanilmu yang telah diperoleh diperkuliahan yang berkaitan dengan industrifarmasi.
  2. Menambah pengetahuan mengenai kegiatan industri farmasi, mengenal sertamemahami tugas dan tanggung jawab serta kewajiban seorang apotekerkhususnya di industri farmasi.

    TINJAUAN PUSTAKA

     

    2.1. Industri Farmasi

    2.1.1.Pengertian Industri Farmasi

        Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri KesehatanNo. 1799/Menkes/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dariMentri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahanobat. Pembuatan obat adalah seluruh tahapan kegiatan dalammenghasilkan obat yang meliputi pengadaan bahan awal dan bahanpengemas, produksi, pengemasan, pengawasan mutu, dan pemastian mutusampai diperoleh obat untuk didistribusikan.

           Industri farmasi dibagi dalam dua kelompok yaitu industri padatmodal dan industri padat karya. Industri padat modal adalah industri yangmenggunakan mesin-mesin produksi dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah tenaga kerjanya, sedangkan industri padat karya lebih banyak menggunakan tenaga manusia dari pada tenaga mesin.

         Obat adalah bahanatau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologidalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Bahanobat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat yangdigunakan dalam pengolahan obat dengan standar dan mutu sebagai bahan baku obat.

     

     

    2.1.2  Izin usaha industri farmasi

     diberikan oleh Menteri Kesehatan danwewenang pemberian izin dilimpahkan oleh Badan Pengawasan Obat danMakanan (Badan POM). Izin ini berlaku seterusnya selama perusahaanindustri farmasi tersebut masih berproduksi dengan perpanjangan izin setiap 5 tahun.

    Sedangkan untuk industri farmasi yang modalnya berasaldari Penanaman Modal Asing (PMA), izin masa berlakunya sesuai denganketentuan dalam UU No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asingdan Peraturan Pelaksanaannya.

           

    2.1.3  Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi

                     Pencabutan izin usaha industri farmasi dilakukan apabila industri yang bersangkutan melakukan pelanggaran :

     1.Melakukan pemindah tanganan hak milik izin usaha industri farmasidan perluasan tanpa izin.

    2.Tidak menyampaikan informasi industri secara berturut-turut 3 kaliatau dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar.

    3.Melakukan pemindahan lokasi usaha industri farmasi tanpapersetujuan tertulis terlebih dahulu dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

    4.Dengan sengaja memproduksi obat jadi atau bahan baku yang tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku (obat palsu).

    5.Tidak memenuhi ketentuan dalam izin usaha industri farmasi.

                                                   

    2.2  Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

                Industri farmasi merupakan industri yang memproduksi obat yang amandan berkualitas. Untuk menjamin mutu obat yang berkualitas, maka industri farmasi melakukan seluruh aspek rangkaian kegiatan produksinya denganmenerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). CPOB merupakanpedoman yang harus diterapkan dalam seluruh rangkaian proses di industrifarmasi dalam pembuatan obat jadi, sesuai dengan keputusan Menteri KesehatanRI No. 43/Menkes/SK/II/1988 tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik.

             Pedoman CPOB bertujuan untuk menghasilkan produk obat yangsenantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan sesuai dengantujuan penggunaannya. CPOB dilakukan secara menyeluruh dan terpadu denganmengadakan pengawasan baik sebelum, selama, dan sesudah proses produksiberlangsung untuk memastikan mutu produk obat agar memenuhi standart yangtelah ditetapkan. Jadi CPOB adalah suatu konsep yang ditetapkan dalam industrifarmasi mengenai langkah-langkah atau prosedur yang dilakukan dalam suatuindustri farmasi untuk menjamin mutu obat yang diproduksi dengan menerapkan“

    Good Manufacturing Practices ” dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatanproduksi, sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutuyang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya.

    Perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi farmasi menyebabkanperubahan-perubahan yang sangat cepat pula dalam konsep dan persyaratanCPOB. Konsep CPOB bersifat dinamis yang memerlukan penyesuaian dari waktuke waktu mengikuti perkembangan teknologi dibidang farmasi.

    Pedoman CPOB merupakan suatu pedoman bagi industri farmasi mengenaisemua aspek-aspek dalam suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat jadiPedoman CPOB tahun 2006, meliputi 12 aspek antara lain: ketentuan umum,personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi,pengawasan mutu, inspeksi diri, penanganan terhadap keluhan dan penarikankembali obat dan obat kembalian, dokumentasi, pembuatan dan analisaberdasarkan kontrak, kulifikasi dan validasi.

    2.2.1. Manajemen Mutu                 

     Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) menyangkut seluruhaspek produksi dan pengendalian mutu, bertujuan untuk menjamin bahwaproduk obat yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yangtelah disesuaikan dengan tujuan penggunaannya.

     Dalam ketentuan umum, ada beberapa landasan yang pentinguntuk diperhatikan yaitu :

    1. Pengawasan menyeluruh pada proses pembuatan obat untuk menjaminbahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi.
    2. Mutu obat tergantung pada bahan awal, proses pembuatan danpengawasan mutu, bangunan, peralatan yang digunakan, danpersonalia.

    Untuk menjamin mutu suatu obat jadi tidak boleh hanyamengandalkan pada suatu pengujian tertentu saja, melainkan 

    1. semuaobat hendaknya dibuat dalam kondisi terkendali dan terpadu dengan cermat.

     CPOB merupakan pedoman yang dibuat untuk memastikan agarsifat dan mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan syarat bahwa standarmutu obat yang telah ditentukan tetap tercapai.

    2.2.2. Personalia     

     Personalia karyawan semua tingkatan harus memilikipengetahuan, ketrampilan dan kemampuan sesuai tugasnya. Karyawanmemiliki kesehatan mental dan fisik yang baik sehingga mampumelaksanakan tugasnya secara professional dan sebagaimana mestinya.Karyawan mempunyai sikap dan kesadaran yang tinggi untuk mewujudkan CPOB.

    Struktur organisasi harus sedemikian rupa sehingga bagianproduksi dan pengawasan mutu dipimpin oleh orang yang berlainan dantidak saling bertanggung jawab terhadap yang lain. Masing-masing harusdiberi wewenang penuh dan sarana yang cukup yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tugasnya secara efektif.

     Manajer produksi seorang apoteker yang cakap, terlatih danmemiliki pengalaman praktis yang memadai dibidang industri farmasi danketerampilan dalam kepemimpinan sehingga memungkinkanmelaksanakan tugas secara profesional. Manajer produksi memilikiwewenang dan tanggung jawab khusus penuh untuk mengelola produksiobat.Manajer pengawasan mutu seorang apoteker yang cakap, terlatih,dan memiliki pengalaman praktis yang memadai untuk memungkinkan melaksanakan tugasnya secara professional. Manajer pengawasan mutudiberi wewenang dan tanggung jawab penuh dalam seluruh tugaspengawasan mutu yang dalam penyusunan, verifikasi dan pelaksanaanseluruh prosedur pengawasan mutu. Manajer pengawasan mutu adalahsatu-satunya yang memiliki wewenang untuk meluluskan bahan awal,produk antara, produk ruahan dan obat jadi bila produk tersebut sesuaidengan spesifikasinya, atau menolaknya bila tidak cocok 

    denganspesifikasinya, atau bila tidak dibuat sesuai dengan prosedur yangdisetujui dan kondisi yang ditentukan.Manajer produksi dan pengawasan mutu bersama-samabertanggung jawab dalam penyusunan dan pengesahan prosedur-prosedurtertulis, pemantauan dan pengawasan lingkungan pembuatan obat,kebersihan pabrik dan validasi proses produksi, kalibrasi alat-alatpengukur, latihan personalia, pemberian persetujuan dan dalampenyimpanan catatan.

    2.2.3. Bangunan dan Fasilitas

     Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat memiliki ukuran,rancang bangun, konstruksi, serta letak yang memadai agar memudahkandalam pelaksanaan kerja, pelaksanaan kebersihan, dan pemeliharaan yangbaik. Tiap sarana kerja hendaknya memadai, sehingga setiap resikoterjadinya kekeliruan, pencemaran silang dan berbagai kesalahan lainyang dapat menurunkan mutu obat dapat dihindari.  

    PEMBAHASAN                                                 

     

     3.1. Tinjauan Khusus Lafial

    Industri farmasi merupakan industri yang mempunyai peran sebagai unitpelayanan kesehatan (non profit oriented ) dan sebagai institusi bisnis( profit oriented ). Peran industri farmasi sebagai unit pelayanan kesehatan adalahmemproduksi obat atau menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan olehmasyarakat supaya sediaan obat yang dihasilkan industri farmasi senantiasaterjamin mutu dan kualitasnya.

         Lafial merupakan salah satu unit pelaksana teknis Diskesal. Lafialmempunyai tugas pokok dalam memproduksi obat-obatan, khususnya untuk anggota TNI Angkatan Laut beserta keluarganya dan instansi lain yang terkait.Produksi yang dilaksanakan Lafial menggunakan dana APBN, oleh sebab 

    ituLafial merupakan industri farmasi yang tidak berorientasi pasar. Obat-obatanyang diproduksi Lafial merupakan me too product  yaitu dengan mencontohsediaan yang telah beredar di pasaran. Obat-obat produksi Lafial dikhususkanbagi kalangan intern TNI AL, sehingga obat-obat yang diproduksi oleh Lafialtidak didaftarkan ke BPOM.

         Dengan keterbatasan yang ada, Lafial sebagai industri farmasi yang tetapberusaha untuk melaksanakan seluruh kegiatan produksinya yang berpedomanpada CPOB, akan tetapi minimnya dana yang tersedia menjadi kendala tersendirisehingga sampai sekarang penerapan CPOB belum terlaksana secara optimal.

    3.2. Personalia

     Personalia merupakan suatu faktor yang penting untuk menjamin mutuproduk yang dihasilkan. Lafial memiliki personil yang terkualifikasi danberpengalaman dalam hal pengetahuan, keterampilan dan kemampuansesuai yang disyaratkan dalam CPOB. Untuk meningkatkan kualitaskaryawannya dilakukan kegiatan peningkatan pengetahuan dan pelatihantentang ilmu farmasi khususnya di bidang CPOB. Pelatihan CPOBdilaksanakan dibawah atasan yang bersangkutan, para praktisi danprofessional di bidang industri farmasi.

         Ada pelatihan CPOB yang diterapkan di Lafial, yaitu penyegarandalam pengetahuan yang berhubungan dengan CPOB untuk apoteker,asisten apoteker serta karyawan lain yang dilaksanakan setiap mingguyaitu pada hari kamis.

     

    3.3. Bangunan dan Fasilitas

     Secara umum bangunan yang ada di Lafial secara keseluruhan telahmemenuhi ketentuan CPOB. Setiap tahapan dalam proses produksidilakukan dalam ruangan tersendiri dan terpisah. Bangunan pada ruanganproduksi Lafial (dinding, lantai dan langit-langit) telah dilapisi denganepoksi, bebas dari keretakan dan sambungan terbuka sehingga mudah dibersihkan. Lantai di daerah pengolahan dibuat dari bahan kedap air,permukaannya rata dan memungkinkan pembersihan secara cepat dan efisien. Sudut antara dinding, lantai dan langit-langit dalam daerah kritisberbentuk lengkungan. Lafial hanya memproduksi sediaan non steril(tablet, kaplet, kapsul, salep dan sirup). Sehubungan dengan hal tersebutruangan produksi obat di Lafial hanya terdiri dari black area (daerahhitam) dan grey area(daerah abu-abu).

              Secara keseluruhan ruangan produksi di Lafial dinilai cukup baik,hal ini dapat dilihat dari bangunan produksi di Lafial yang dibedakanmenjadi dua bagian, yaitu ruang untuk produksi beta laktam dan non betalaktam. Kedua ruang produksi tersebut berada dalam satu bangunantetapi keduanya sudah dipisahkan dengan sekat dan sistem pengelolaanudara yang terpisah. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinyakontaminasi silang oleh atau bahan lain. Pada ruang produksi betalaktam, terdapat air shower yang tidak terdapat di ruang non beta laktam.Ruangan beta laktam dan non beta laktam juga dilengkapi denganruangan berikut ini ruang pencampuran awal, ruang pembuatan granulasibasah atau kering, ruang pengeringan, ruang cetak tablet, ruangpembuatan sirup, pengisian kapsul, ruang pembersih kapsul, ruang tabletsalut, ruang pengemasan, dan lain-lainnya juga sudah terpisah.

              Gudang di Lafial terbagi menjadi gudang beta laktam dan nonbeta laktam, yang masing-masing terdiri dari gudang bahan baku danbahan pengemas, dimana keduanya terletak dalam satu bangunan denganruang produksi, tetapi dipisahkan oleh pintu antara. Hal ini untuk memudahkan aliran bahan baku ataupun produk jadi.

            Gudang penyimpanan dilengkapi dengan air conditioner 

    untuk mencapai kondisi yang mendukung penyimpanan (suhu dankelembaban). Penyimpanan barang di gudang Lafial masih perlupenyempurnaan, namun hal tersebut tidak menjadi masalah yang berarti,karena gudang yang tersedia berfungsi sebagai depo yang bersifatsementara. Gudang penyimpanan bahan baku non beta laktam dan betalaktam sudah dipisah.

    3.4.Peralatan        

     Perawatan peralatan di Lafial selalu dilakukan oleh sub departemenPengendalian dan Pemeliharaan Material (Dalharmat), yaitu dengan caradibersihkan setiap kali selesai digunakan dalam produksi obat. Perawatanperalatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah malfungsi ataupencemaran yang dapat mempengaruhi identitas, mutu atau kemurniansuatu produk yang disebabkan oleh kotoran-kotoran yang tertinggal dialat. Peralatan yang telah dibersihkan dicantumkan keterangan tertulisyang menyatakan status alat, siapa yang membersihkan, kapan dan siapayang mengetahui. Kemudian diberi tanda ”TELAH DIBERSIHKAN”.Ini bertujuan untuk membedakan peralatan yang telah dibersihkandengan peralatan yang belum dibersihkan. Untuk menunjang perawatanperalatan maka dilaksanakan validasi proses. Pelaksanaan validasi prosespada peralatan produksi di Lafial belum berjalan dengan baik, hal inidisebabkan oleh jadwal validasi yang tidak teratur dan terbatasnya danayang tersedia

       PENUTUP                                                             

     

    4.1 Kesimpulan

    Dari kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker yang dilaksanakan pada tanggal12 – 30 September 2011 di Lembaga Farmasi Angkatan Laut (LAFIAL)Drs. Mochamad Kamal, dapat diambil kesimpulan bahwa :

    1. Lembaga Farmasi Angkatan Laut adalah suatu lembaga yang mempunyaiberagam Sumber Daya Manusia dan terdiri dari unsur pimpinan, pelayanandan pelaksana yang satu dan lainnya saling bekerjasama dalam seluruhkegiatan produksi meliputi pengadaan,manufacturing,pengawasan mutu danmanajemen CPOB dari produk yang dihasilkan.
    2. Lembaga Farmasi Angkatan Laut terbagi menjadi empat departemen yangmeliputi : departemen produksi, departemen pengawasan mutu, departemenmaterial kesehatan, departemen pendidikan pelatihan dan pengembangan.Tahun 2011 Lafial telah memproduksi produk β Laktam dan non β\-Laktamsebanyak 55 item. Produksi obat dilakukan berdasarkan rencana produksiyang disusun oleh DISKESAL yang kemudian dikirimkan ke Lafial danselanjutnya lafial melaksanakan proses produksi berdasarkan Surat PerintahProduksi. Rencana produksi yang disusun oleh DISKESAL dibuatberdasarkan kebutuhan rumah sakit dan sarana kesehatan TNI AL lainyayang tersebar di seluruh indonesia yang telah dianalisis oleh Subdinyankesberdasarkan data epidemik penyakit dan jumlah pasien. .

     

    1. Lembaga Farmasi Angkatan Laut mempunyai tugas pokok memproduksiobat-obatan yang digunakan untuk kalangan sendiri dan tidak berorientasipada keuntungan.

     

    1. Lembaga Farmasi Angkatan Laut dalam memproduksi obat telah mempunyaisarana dan prasarana yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalamCPOB sehingga mampu menjamin mutu produk yang dihasilkan.

     

    1. Apoteker sangat berperan penting dalam keseluruhan proses kegiatan baik secara manajemen maupun teknis pelaksanaan produksi seperti prosespengadaan, produksi dan pengawasan mutu yang bertujuan untuk menjaminagar produk obat yang dihasilkan bermutu tinggi.

     

    4.2 Saran

    Dari beberapa kegiatan yang dilakukan di Lembaga Farmasi Angkatan LautDrs. Mochamad Kamal untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi,ada beberapa saran yang perlu diperhatikan guna meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan, antara lain :

    1.Penerapan Prinsip–prinsip CPOB di LAFIAL hendaknya senantiasaditingkatkan sehingga mutu produk yang dihasilkan dapat dipertahankan danditingkatkan kualitasnya. Selain itu, perlu dilakukan pelatihan CPOB secaraberkesinambungan serta pendidikan berkelanjutan bagi seluruh personiluntuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada sehinggaproduk yang dihasilkan terjamin mutunya.

     

       DAFTAR PUSTAKA                                   

     

    1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Jakarta: Ikatan ApotekerIndonesia; 2009. Hal 2.

    2.Priyambodo, B.,

     Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta: Global PustakaUtama; 2007. Hal 2.

    3.Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Mentri KesehatanRepublik Indonesia No.1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang IndustriFarmasi. Jakarta: Ikatan Apoteker Indonesia; 2010.

    4.Tim Revisi Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Cara Pembuatan Obatyang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan; 2001. Hal.1-87.

    5.Tim Revisi Padoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Cara pembuatan Obatyang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan; 2006. Hal 96-107.

    6.Dinas Kesehatan Angkatan Laut.

    Organisasi Dan Prosedur Lembaga FarmasiTentara Nasional Indonesia Angkatan Laut 

    . Markas Besar TNI AngkatanLaut,. Jakarta: 1999.

    7.Direktorat Kesehatan TNI Angkatan Laut. Petunjuk Kerja Lafial. Jakarta:Lafial; 1991. Hal.1-29.

    8.Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia. Edisi IV.Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1995.

    9.Ansel HC.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi

    . Edisi IV. Diterjemahkan olehFarida Ibrahim. Jakarta: UI Press; 1998.

     

     

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s